Mepantigan adalah bentuk seni bela diri tradisional Bali yang melibatkan teknik fisik mirip dengan yang ditemukan dalam seni bela diri tradisi di seluruh dunia. Pencak tradisional Bali seperti itu Sitembak, 7 harian, dan Depok yang biasa juga disebut sebagai Tengklung dipadukanlah dengan drama, tari Bali dan musik gamelan, juga seni bela diri dari negara lain untuk menciptakan sebuah fenomena budaya yang sama sekali baru yang disebut Mepantigan, yang artinya saling membanting.
Peserta memakai seragam yang terdiri dari pakaian tradisional Bali, yaitu kain dililitkan seperti celana dan Udeng untuk bagian kepala jika bertanding atau pertunjukan. Pertunjukan bisa dilakukan di pantai, dalam lumpur sawah, atau di ruang terbuka. Untuk pertunjukan di Ubud dilakukan pada areal sawah yang penuh dengan lumpur sehingga mepantigan juga terkenal dengan Gulat Lumpur.
Meski belum banyak dikenal, sejatinya mepantigan sudah diikutsertakan dalam kejuaraan dunia. Itu dilakukan pada Agustus 2010 lalu dengan diikuti enam negara asing: Denmark, Jepang, Korea, Inggris, Swedia, dan Belanda.
Yang membedakan Mepantigan ini dengan pencak yang ada di Indonesia adalah lebih banyak mengutamakan kuncian dan bantingan, apalagi ditambah dengan paduan tradisional Bali menjadikan mepantigan semakin menarik dan patut anda coba.
Menurut Putu Witsen Widjaya, pendiri dan guru senior Mepantigan, siswa Mepantigan berevolusi sebagai manusia dan menghindari kekerasan sementara mengutamakan budidaya belas kasihan serta mampu menumbuhkan rasa hormat terhadap orang lain. Atraksi mepantigan ini dapat anda saksikan setiap Kamis malam di Museum/hotel Arma Ubud, atau bisa ke Pondok Mepantigan Bali.
Peserta memakai seragam yang terdiri dari pakaian tradisional Bali, yaitu kain dililitkan seperti celana dan Udeng untuk bagian kepala jika bertanding atau pertunjukan. Pertunjukan bisa dilakukan di pantai, dalam lumpur sawah, atau di ruang terbuka. Untuk pertunjukan di Ubud dilakukan pada areal sawah yang penuh dengan lumpur sehingga mepantigan juga terkenal dengan Gulat Lumpur.
Meski belum banyak dikenal, sejatinya mepantigan sudah diikutsertakan dalam kejuaraan dunia. Itu dilakukan pada Agustus 2010 lalu dengan diikuti enam negara asing: Denmark, Jepang, Korea, Inggris, Swedia, dan Belanda.
Yang membedakan Mepantigan ini dengan pencak yang ada di Indonesia adalah lebih banyak mengutamakan kuncian dan bantingan, apalagi ditambah dengan paduan tradisional Bali menjadikan mepantigan semakin menarik dan patut anda coba.
Menurut Putu Witsen Widjaya, pendiri dan guru senior Mepantigan, siswa Mepantigan berevolusi sebagai manusia dan menghindari kekerasan sementara mengutamakan budidaya belas kasihan serta mampu menumbuhkan rasa hormat terhadap orang lain. Atraksi mepantigan ini dapat anda saksikan setiap Kamis malam di Museum/hotel Arma Ubud, atau bisa ke Pondok Mepantigan Bali.
Sumber: Website Mepantigan Bali: http://www.mepantiganbali.com
0 komentar:
Posting Komentar
Jika anda suka dengan artikel ini jangan segan untuk berkomentar ya, Komentar anda sangat diperlukan untuk develop blog ini.
Kalo nggak punya URL, Google Acc, silahkan beri komentar sebagai: Anonymous. Terimakasih.