Professional Blogger

It's possible to make a living as a professional blogger by attracting enough visitors to the and generating income, typically through visitors' clicking on advertisements.......hehehe.

Need to fix

GoBlognya Si Budi also need repairs here and there for a great change

Do not forget click LIKE on my fan page...

By giving like the fan page for GoBlognya Si Budi this means you have accounted for one vote for the sustainability of this blog.

Blow My Mind...!!!

Sometimes my brain is stuck, the good solution is take a deep breath, ain't nothing and sleep......hahaha.

Finally....Love Your Blog!!!

Finally, love your blog by way of peace, update the article at any time, publish ads and earn money as much as possible ..... hahaha.

Tampilkan postingan dengan label Culture. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Culture. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 21 Oktober 2017

Tibumana Waterfall



Jumat, 10 Februari 2012

Obrolan Warung Pinggir Jalan Jilid. 2


Sudah beberapa hari saya tidak pernah berkunjung ke warung kopi langganan dipinggir jalan itu. Kangen rasanya ingin bertemu dengan teman-teman, sekedar ngobrol sambil santai untuk mengurangi kepenatan dan kejenuhan yang ada.

Sore ini saya mantapkan kaki melangkah kewarung kopi tersebut, duduk dan memesan secangkir kopi Bali asli yang kental dan nikmat. Ternyata sudah banyak teman-teman berkumpul dan sepertinya sedang asyik membicarakan sesuatu yang belakangan ini marak diberitakan di koran-koran maupun di media televisi. Terdengar jelas bahwa mereka sedang membicarakan tentang video kekerasan remaja putri atau ABG di Bali yang bocor dan beredar luas di dunia maya (you tube). Saya sebenarnya malas untuk melibatkan diri, karena saya sudah mendapat informasi tersebut dari media massa baik koran maupun televisi, dan saya rasa ini bukanlah kejadian yang pertama kalinya di negeri kita.

Tetapi ada sesuatu hal yang menggelitik lamunan saya dan menerawang kemana-mana, yaitu saya juga mempunyai seorang remaja putri yang duduk di sekolah menengah pertama (SMP) yang harus kami jaga agar supaya tidak menunjukkan perilaku menyimpang seperti kenakalan remaja putri yang diberitakan tersebut. Kenapa? karena putri saya ini adalah generasi muda yang merupakan cikal bakal dari masyarakat dewasa di masa mendatang, dan kehidupan remaja yang baik serta terarah akan mewujudkan masyarakat yang sejahtera nantinya. .

Saya sebagai orang Bali merasa prihatin dengan kejadian tersebut, bukan hanya kepada korban tetapi juga kepada pelakunya yang belakangan diketahui merupakan remaja yang putus sekolah dan berlatar belakang dari keluarga broken home. Tapi ini mungkin juga kesalahan dari kita sebagai orang tua yang tidak mampu mengikuti perkembangan mental anak-anaknya.

Menyikapi permasalahan yang ada, semua pihak harus arif dan bijaksana memberi penilaian dan perlu dilakukan langkah-langkah yang strategis untuk mencegah agar kejadian ini tidak terulang kembali. Solusinya harus dilakukan secara bersama-sama baik itu orang tua, sekolah, masyarakat, aparat keamanan, dan pemerintah.

Dengan mengedepankan perbaikan di dunia pendidikan sehingga mampu mencegah anak putus sekolah agar tetap menimba ilmu, yang bukan hanya ilmu pengetahuan tetapi juga pendidikan moral dan budi pekerti. Dalam hal kejahatan yang dilakukan oleh remaja, sebaiknya ditangani oleh aparat keamanan dengan hukum yang ada tetapi haruslah ini memberikan cara yang lebih menekankan pada upaya mendidik agar remaja menyadari kekeliruannya dan tidak mengulangi lagi dimasa yang akan datang.

Saya terhenyak dari lamunan, dan mulai bergabung dengan teman-teman untuk ngobrol kembali.

Info: Silahkan kunjungi juga Obrolan Warung Pinggir Jalan di Kompasiana





Selasa, 31 Januari 2012

Memaknai Galungan Secara Benar


Rabu besok, 1 Februari 2012 masyarakat Hindu di Bali akan merayakan hari raya Galungan. karena berulang setiap enam bulan sekali, kesannya seperti rutinitas saja. Tetapi tentu dari segi pemaknaan kita tidak boleh memandang sebagai rutinitas belaka. Secara sosial, pemahaman Galungan sebagai hal yang bersifat rutin sangat berbahaya karena pesan yang dimaknakan dalam hari tersebut akan jauh menyimpang.

Pemahaman ini akan membuat manusia Hindu (Bali) sekedar membuat penjor , mempersiapkan makanan, atau sekedar datang ke Pura saja, setelah itu selesai karena hal yang bersifat rutin sudah dikerjakan, untuk selanjutnya begitu lagi terulang enam bulan berikutnya. Sekali lagi ini berbahaya, padahal makna hari raya Galungan adalah merayakan kemenangan dharma melawan adharma ; kemenangan kebaikan melawan keburukan,kebenaran melawan ketidakbenaran. Itu yang harus dimaknai secara mendalam. Artinya kebenaran atau kebaikan itu harus kita refleksikan dalam kehidupan sehari-hari. Jika kita memaknai Galungan dengan cara demikian, pengaruhnya sangat luas.

ketika kita bekerja keras melaksanakan pekerjaan kita untuk mencapai tujuan yang benar, itu juga sebuah kebaikan dan kebenaran. Agama selalu mengajarkan dan memberi petunjuk kepada kita untuk bekerja keras berada dalam jalur yang benar. Dengan demikian makna Galungan juga bisa sebagai patokan untuk berperilaku. Jika kita memaknai Galungan secara baik dan benar, tidak akan mungkin orang berperilaku koruptif, karena perilaku itu bukanlah hal yang benar dan baik. 
 
Yang kita khawatirkan sekarang, justru yang terjadi sebaliknya, di tengah  kompetisi hidup yang begitu ketat banyak yang tidak mengerti memahami arti Galungan sehingga perilaku hidupnya banyak menyimpang. orang tidak lagi mengindahkan tata krama hidup, sehingga kestabilan sosial menjadi terganggu. Ini akibat pemaknaan hari raya yang salah. Barangkali penyimpangan-penyimpangan sosial yang terjadi diakibatkan oleh pemaknaan Galungan yang sekedar rutinits belaka, Itulah yang kita lihat belakangan ini.

Kita lihat ada anggota masyarakat yang jor-joran membuat penjor, saling berlomba untuk membuat penjor yang mahal sehingga aksesorisnya justru kacau, atau mereka juga jor-joran memakai pakaian mahal ke pura sehingga mirip kontes pakaian adat. Sekali lagi bersama-sama kita harus tekankan, jika terjadi hal seperti itu segeralah hentikan...!!! karena itu bukan memperlihatkan makna Galungan yang sesungguhnya. Perilaku jor-joran ini tidak baik, tidak benar, dan justru menimbulkan potensi konflik dan ini sangat merugikan bagi masyarakat Bali.

Sebenarnya kita menginginkan pelaksanaan upacara yang sederhana tetapi menyentuh makna yang terdalam, dengan demikian hari raya Galungan mempunyai pesan yang sangat universal. Ia tidak saja bisa dipelajari dan dihayati oleh mereka yang beragama Hindu (di Bali) tetapi juga oleh agama-agama lain diberbagai belahan dunia. Dengan hari raya Galungan, kita ditekankan untuk selalu berbuat baik dan benar, tidak membuat konflik, tidak membuat gaduh, dan selalu memberikan inspirasi positif bagi masyarakat.

Mari lindungi diri kita dari perilaku-perilaku yang jahat agar hidup selalu bisa dinikmati dengan kualitas yang lebih baik. Source: Tajuk Rencana-Bali Post

Akhir kata saya ucapkan "Selamat Hari Raya Galungan" bagi yang merayakannya.

Salam,


Senin, 23 Januari 2012

Tanpa Celana Naik Subway

Inilah keanehan yang terjadi di belahan negara lain, dimana para penumpang Subway bepergian tanpa memakai celana atau bawahan, dengan santainya mereka hanya memakai celana dalam dan lalu lalang kesana kemari.

Mungkin di negara mereka ada hari khusus tanpa menggunakan celana untuk bepergian. Coba lihat betapa lucunya corak dan bentuk celana dalam yang mereka gunakan.....hahaha.



Rabu, 09 Maret 2011

Punk

Mungkin kita pernah melihat sekelompok pemuda dijalanan dengan dandanan yang agak nyeleneh, tapi terlihat funky......., dengan potongan rambut ala Mowhak dan sepatu boot kulit serta accesoris yang terbuat dari kancing paku....!!! Ya mereka adalah Kaum Punk atau dikenal dengan sebutan PUNKERS

kisah lahirnya kaum punk berawal pada tahun 1971 ketika Lester Bangs, wartawan majalah semi-underground Amerika, Creem, menggunakan istilah punk untuk mendeskripsikan sebuah aliran musik rock yang semrawut, asal bunyi, namun bersemangat tinggi. Musik tersebut dibuat dan digemari oleh para narapidana Amerika yang terkenal brutal, sadis dan psikopat. Kata punk itu sendiri lazim digunakan oleh kaum narapidana Amerika untuk nyebut partner atau pasangan pasif dalam hubungan homoseksual.

Sejak saat itu, para napi disana seringkali menggunakan istilah punk dan punkers. Penggunaan kata punk sendiri hingga saat ini dipakai sebagai kata sifat untuk sesuatu hal yang dianggap buruk dan tak berguna alias sampah.

Karena asal mulanya dari para narapidana, enggak salah kalau sekarang kita lihat penampilan anak-anak yang ngakunya punk ikut awut-awutan. Kaum punk memang bukanlah tipikal anak muda masa kini yang doyan clubbing dan dugem. Jauh banget dengan karakter metroseksual. Meski demikian keduanya punya satu kesamaan, yaitu pola pikir dan sikap yang serba bebas.

Punk sendiri merupakan sub-budaya yang lahir di London, Inggris. Pada awalnya, kelompok punk selalu dikacaukan oleh golongan skinhead. Namun, sejak tahun 1980-an, saat punk merajalela di Amerika, golongan punk dan skinhead seolah-olah menyatu, karena mempunyai semangat yang sama. Namun, Punk juga dapat berarti jenis musik atau genre yang lahir di awal tahun 1970-an. Punk juga bisa berarti ideologi hidup yang mencakup aspek sosial dan politik.

Gerakan anak muda yang diawali oleh anak-anak kelas pekerja ini dengan segera merambah Amerika yang mengalami masalah ekonomi dan keuangan yang dipicu oleh kemerosotan moral oleh para tokoh politik yang memicu tingkat pengangguran dan kriminalitas yang tinggi. Punk berusaha menyindir para penguasa dengan caranya sendiri, melalui lagu-lagu dengan musik dan lirik yang sederhana namun terkadang kasar, beat yang cepat dan menghentak.

Punk juga merupakan sebuah gerakan perlawanan anak muda yang berlandaskan dari keyakinan We can do it Ourselves. Penilaian punk dalam melihat suatu masalah dapat dilihat melalui lirik-lirik lagunya yang bercerita tentang masalah politik, lingkungan hidup, ekonomi, ideologi, sosial dan bahkan masalah agama.

Psikolog brilian asal Rusia, Pavel Semenov, menyimpulkan bahwa manusia memuaskan kelaparannya akan pengetahuan dengan dua cara. Pertama, melakukan penelitian terhadap lingkungannya dan mengatur hasil penelitian tersebut secara rasional. Kedua, mengatur ulang lingkungan terdekatnya dengan tujuan membuat sesuatu yang baru.

Dengan definisi diatas, punk dapat dikategorikan sebagai bagian dari dunia kesenian. Gaya hidup dan pola pikir para pendahulu punk mirip dengan para pendahulu gerakan seni avant-garde, yaitu dandanan nyleneh, mengaburkan batas antara idealisme seni dan kenyataan hidup, memprovokasi audiens secara terang-terangan, menggunakan para performer berkualitas rendah dan mereorganisasi atau mendisorganisasi secara drastis kemapanan gaya hidup. Para penganut awal kedua aliran tersebut juga meyakini satu hal, bahwa hebohnya penampilan harus disertai dengan hebohnya pemikiran.

lambat laun, kaum punk mulai berganti haluan. Pemahaman aslinya pun hilang. Bentuk protes mereka dijadikan lirik-lirik lagu. Punk kemudian berkembang sebagai aliran musik, masih membawa ciri-ciri narapidana yang serba ga karuan. Lagu-lagu punk lebih mirip teriakan protes demonstran terhadap kejamnya dunia. Lirik lagu-lagu mereka berisi soal rasa frustrasi, kemarahan, dan kejenuhan akibat kompromi dengan hukum. Selain itu, mereka bersuara tentang rendahnya pendidikan, pengangguran, represi aparat dan kebencian pada penguasa.

Nah, terlepas dari citra miring masyarakat tentang keberadaan komunitas remaja dan pemuda ini, saya ingin menyorotnya dengan sudut dan pandangan yang sedikit berbeda, yaitu lewat perspektif positifnya (tidak hanya negatifnya saja yang dibicarakan).

PUNKERS juga Manusia, punya RASA punya HATI

Punkers ini biasanya memiliki rasa persaudaraan jauh lebih hebat dibanding kita, biasanya mereka sebut rasa solider atau lengkapnya solidaritas. Benar!!! Atas nama solidaritas mereka mampu untuk saling menunggu berjam-jam sahabatnya yang hanya sedang ganti baju, bukan itu aja, seringkali jika ada salah seorang temennya gak punya uang untuk naik bis menuju suatu tempat, mereka semua rela untuk bantu walaupun istilahnya hanya dengan seratus dua ratus perak.

Tidak semua anak punk itu jahat atau brutal. Banyak di antara mereka yang memunyai kepedulian tinggi terhadap masalah sosial. Malah beberapa anak punk rata-rata memiliki karakter sopan, bahkan memiliki kesadaran tinggi untuk membuang sampah pada tempatnya.

Tak hanya itu, sejumlah komunitas punk tertentu bahkan ada yang rela menyumbangkan tenaga mengurus manula di panti jompo. Di sana, mereka bekerja sebagai perawat dengan penuh kesabaran. Sebagian malahan ada yang membantu kegiatan arisan ibu-ibu di lingkungan mereka tinggal. Mereka inilah yang mengerti ideologi punk sebenarnya.

Jadi bagaimana dengan Anda...??? Pengen jadi PUNKERS....!!! PEACE

Kamis, 03 Maret 2011

Balinese Hinduism


Balinese Hinduism is called Agama Hindu Dharma and is a blend of elements from Hinduism and Buddhism, these arrived through from India during 8th to 19th centuries. Element of Mahayana Buddhism practiced in Japan, China, and Korea as well as the Indian caste system are now important components of religion.

Balinese Hindus believe in reincarnation, when a person dies...., the soul passes into another body, where it is in torment because of evil deeds accumulated in its present and past lives. To cleanse the impurity of the soul, rituals are continually performed throughout the person's life. The soul will constantly seek to free itself from this cycle of life until it attains enlightenment or moksa.

 The process of incarnation is both human and cosmic, starting from love. The union of a man and a woman is that of purusa and pradana (the male and female principle respectively), and the cosmic energy of Asmara the God of love and Ratih the Goddess of the moon. In their sexual love are united the red and white elements of desire, symbol of male sperm and female ovule. The eventual merging of the two Kamas begets what is often call "The Godly Fetus" or Sang Hyang Jabang Bayi, as the soul originates from heavenly world.  A child is called Dewa or Little God during their first year of live.

Balinese believe that the mountains are the home of the God, deified ancestors and souls which did not attain moksa. The Gods and deified ancestors will descend occasionally to earth during temple ceremonies to partake of offering and enjoy entertainment. When souls are ready to reincarnate on earth, they will come from the mountains above or straight from hell. That is why the mountains are revered as the holy place.

Being multiple and pervading, God has different names, the ultimate void or Sunya expanding in an infinity of Murti, manifestations from which people select one as Ista dewata or persona God. Some of the names are indigenous such as Sang Hyang Embang and others of Indian origin, Sang Hyang Parama Kawi.

They are all seen as emanating from a single source. As the tools for maintaining the balance of the world there are rituals for everything imaginable, from knowledge and cleaning machines to marriage and birth ceremonies, all of different types and levels. Rituals consist of calling down the Gods and the ancestors for visits from their heavenly abode in their country above the mountain. 

The religious rites of the Balinese consist of the human rites (manusa yadnya), the rites of the dead (pitra yadnya), rites of the Gods or temple rites (dewa yadnya), rites of demonic forces (buta yadnya), and ordainment rites (rsi yadnya). 

Each phase of person's life from pregnancy to birth and birth to death will be accompanied by rituals, which are performed on certain occasions or at any time whenever the need arises. Holly water, fire, ash, geese, ducks, eggs, and leaves of dabdab tree are the purifying elements used in the rituals. Apart from its spritual purposes , the manusa yadnya rites are also carried out to oversee the person's material well being. The four companions (kanda empat) accompany the person throughout the course of his or her life. If treated well they will act as protectors, otherwise they may cause problems. 


The manusa yadnya rites include birth rites, the seven months gendongan ceremony. When the soul is bound within the womb. Birth is celebrated through the penyambutan (welcoming ) ceremonies the true birth rites. The catur sanak or burying of four little siblings is when the after birth is given a ritual burial in four different place within the family compound. On the fifth or seventh day ceremony for the fall of the umbilical cord (kepus pungsed) is held. Twelve days after birth, a shrine is placed next to the baby's cot with flower and banana offerings to the dewa kumara deity, who will protect the baby until the first tooth appears.

At the age of three months the baby is allowed to touch the ground and is given a name. It has entered the earthly world and the ceremonies are to welcome and guide the child during his or her first step in life. This is how a child attains full incarnation of human status. like any other being, the child will be subjected to cycle of Balinese calender. He or she will have an otonan anniversary in the family temple, with offerings every 210 days. 

According to the principles of cosmic harmony, man is expected to reach moksa. To do this he or she should strive to fulfill three other goals of life, desire (kama), wealth (artha), and virtue (dharma). Each of these goals should be fulfilled in an order of priority depending on the stage reached in life, such as when young, becoming an adolescent, getting married and becoming old. 

Desire must be exercised with caution and balanced by dharma. This control of desire is illustrated in mesangih or metatah, a tooth-filing rite which takes place during adolescence, a time when sexual desire has reached its peak. The teeth symbolize the animal or the uncontrolled side of humans and Balinese demons always have big canine teeth. By filing them, six enemies will be eliminated, namely, lust, greed, anger, intoxication, confusion, and jealousy. 

The Balinese marriage ceremony  is preceded by an engagement of mepadik during which the couple falsely elope and are supported by a group or accomplices, who protect the couple during their honeymoon. After three days they are considered man and wife. The ploy is a serious one as the girl's parents may be furious and refuse their blessing. The wedding ceremony follows in a more formal manner. It emphasizes that one's desire, while being exercised, should at the same time be kept under tight control. The climax of the wedding ritual, Mesakapan is meant to appease the earthly buta sor, which are the origin of desires and temptation priorities in life then shift towards family and accumulation of wealth or artha.

Male heirs are regarded as important because it these heirs or sentana who will implement the rituals of death and look after the family temples. It is therefore important to accumulate wealth so the heirs can safeguard the process of release and ensure that the rites for their ancestors and community can be financed.

The Balinese death is seen as a return to your origins. The preceding wheels of one's life are the way to ultimate release. Not all corpses are cremated immediately as some wait for an auspicious day, a collective ceremony or until their descendants have enough money to perform the rites. 

The cremation rituals is reminder of the cosmic symbolism of life. The tower is duplicate of the cosmos, the corpse is put in the middle, symbolizing its position between the spritual and the human worlds. The sarcophagus, in which the body is burned is a vehicle to take the soul away. The ashes are collected and taken to the sea. It is here that the soul passes through hell to be tortured and cleansed. The soul is then called back on shore and eventually taken back to the Mother Mountain, Gunung Agung

The souls is then enshrined in the family temple and the deceased is now an ancestor, until the next incarnation. There are few societies in the world where religion play a role such as it does in Bali. The incredible beauty and color that accompany the rituals and offerings, which seem to be ever occuring in Bali, harmonize the world of world of man with the cosmic world of the Gods.

Jumat, 25 Februari 2011

Hari Raya Nyepi

Sebentar lagi kami umat Hindu khususnya yang berada di Bali dan yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia akan menyambut Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1933 yang jatuh pada tanggal 5 Maret 2011. 

Di hari yang suci ini, semua aktivitas yang kami lakukan terhenti sama sekali, tidak ada lampu, tidak bepergian dan lain sebagainya. Untuk memahami ini tidak ada salahnya kami sebagai umat yang beragama Hindu memberikan sekedar informasi mengenai Hari Raya Nyepi ini. Semoga informasi ini bermanfaat bagi kita semua. Berikut informasi yang dapat saya sampaikan:
 
Nyepi berasal dari kata sepi (sunyi, senyap). Hari Raya Nyepi sebenarnya merupakan perayaan Tahun Baru Hindu berdasarkan penanggalan / kalender Saka, yang dimulai sejak tahun 78 Masehi. Tidak seperti perayaan tahun baru Masehi, Tahun Baru Saka di Bali dimulai dengan menyepi. Tidak ada aktifitas seperti biasa. Semua kegiatan ditiadakan, termasuk pelayanan umum, seperti Bandar Udara Internasional pun tutup, namun tidak untuk rumah sakit.
Tujuan utama Hari Raya Nyepi adalah memohon ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa, untuk menyucikan Buwana Alit (alam manusia / microcosmos) dan Buwana Agung/macrocosmos (alam semesta). Sebelum Hari Raya Nyepi, terdapat beberapa rangkaian upacara yang dilakukan umat Hindu, khususnya di daerah Bali.

Melasti, Tawur (Pecaruan), dan Pengrupukan

Tiga atau dua hari sebelum Nyepi, umat Hindu melakukan Penyucian dengan melakukan upacara Melasti atau disebut juga Melis/Mekiyis. Pada hari tersebut, segala sarana persembahyangan yang ada di Pura (tempat suci) di arak ke pantai atau danau, karena laut atau danau adalah sumber air suci (tirta amerta) dan bisa menyucikan segala leteh (kotor) di dalam diri manusia dan alam.
Sehari sebelum Nyepi, yaitu pada "tilem sasih kesanga" (bulan mati yang ke-9), umat Hindu melaksanakan upacara Buta Yadnya di segala tingkatan masyarakat,mulai dari masing-masing keluarga,banjar,desa,kecamatan dan seterusnya, dengan mengambil salah satu dari jenis-jenis caru (semacam sesajian) menurut kemampuannya. Buta Yadnya itu masing-masing bernama Pañca Sata (kecil), Pañca Sanak (sedang), dan Tawur Agung (besar). Tawur atau pecaruan sendiri merupakan penyucian/pemarisuda Buta Kala, dan segala leteh (kekotoran) diharapkan sirna semuanya. Caru yang dilaksanakan di rumah masing-masing terdiri dari nasi manca (lima) warna berjumlah 9 tanding/paket beserta lauk pauknya, seperti ayam brumbun (berwarna-warni) disertai tetabuhan arak/tuak. Buta Yadnya ini ditujukan kepada Sang Buta Raja, Buta Kala dan Batara Kala, dengan memohon supaya mereka tidak mengganggu umat.
Mecaru diikuti oleh upacara pengerupukan, yaitu menyebar-nyebar nasi tawur, mengobori-obori rumah dan seluruh pekarangan, menyemburi rumah dan pekarangan dengan mesiu, serta memukul benda-benda apa saja (biasanya kentongan) hingga bersuara ramai/gaduh. Tahapan ini dilakukan untuk mengusir Buta Kala dari lingkungan rumah, pekarangan, dan lingkungan sekitar. Khusus di Bali, pengrupukan biasanya dimeriahkan dengan pawai ogoh-ogoh yang merupakan perwujudan Buta Kala yang diarak keliling lingkungan, dan kemudian dibakar. Tujuannya sama yaitu mengusir Buta Kala dari lingkungan sekitar.

Puncak acara Nyepi

Keesokan harinya, yaitu pada Purnama Kedasa (bulan purnama ke-10), tibalah Hari Raya Nyepi sesungguhnya. Pada hari ini suasana seperti mati. Tidak ada kesibukan aktifitas seperti biasa. Pada hari ini umat Hindu melaksanakan "Catur Brata" Penyepian yang terdiri dari amati geni (tiada berapi-api/tidak menggunakan dan atau menghidupkan api), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bepergian), dan amati lelanguan (tidak mendengarkan hiburan). Serta bagi yang mampu juga melaksanakan tapa,brata,yoga dan semadhi.

Demikianlah untuk masa baru, benar-benar dimulai dengan suatu halaman baru yang putih bersih. Untuk memulai hidup dalam tahun baru Caka pun, dasar ini dipergunakan, sehingga semua yang kita lakukan berawal dari tidak ada,suci dan bersih. Tiap orang berilmu (sang wruhing tattwa jñana) melaksanakan brata (pengekangan hawa nafsu), yoga ( menghubungkan jiwa dengan paramatma (Tuhan), tapa (latihan ketahanan menderita), dan samadi (manunggal kepada Tuhan, yang tujuan akhirnya adalah kesucian lahir batin).
Semua itu menjadi keharusan bagi umat Hindu agar memiliki kesiapan batin untuk menghadapi setiap tantangan kehidupan di tahun yang baru. Kebiasaan merayakan hari raya dengan berfoya-foya, berjudi, mabuk-mabukan adalah sesuatu kebiasaan yang keliru dan mesti diubah.

Ngembak Geni (Ngembak Api)

Rangkaian terakhir dari perayaan Tahun Baru Saka adalah hari Ngembak Geni yang jatuh pada "pinanggal ping kalih" (tanggal 2) sasih kedasa (bulan X). Pada hari ini Tahun Baru Saka tersebut memasuki hari kedua. Umat Hindu bersilaturahmi dengan keluarga besar dan tetangga, saling maaf memaafkan (ksama) satu sama lain. Source : Wikipedia

Semoga bermanfaat.

Photobucket
Silahkan untuk menambahkan LINK Blog anda dibawah ini

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites