Senin, 21 Februari 2011

Home » » Uniknya DesaTenganan Pegringsingan Bali

Uniknya DesaTenganan Pegringsingan Bali

          Desa Tengganan terletak di antara perbukitan, termasuk kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem kurang lebih 17 km dari kota Amlapura atau 65 km dari Denpasar terdiri atas 3 banjar yaitu banjar Kauh, banjar Kangin dan banjar Pande. Wilayah desa terdiri dari tiga bagian utama al; komplek pemukiman, perkebunan dan komplek persawahan merupakan salah satu dari sejumlah desa kuno di pulau Bali dimana pola kehidupan masyarakatnya merupakan satu contoh kebudayaan desa-desa Bali Aga (pra Hindu) yang berbeda dengan desa-desa lain di Bali dataran. 

         Tenganan Pegringsingan adalah salah satu dari beberapa kampung bali tua di Bali. Kampung lainnya antara lain di Trunyan dan di Nusa Penida. Bali Aga (Bali Tua) ini berbeda dengan daerah Bali lainnya, konon ini adalah Bali sebelum Majapahit menaklukan Bali. Tenganan terletak tidak jauh dari areal pantai Candi Dasa, sekitar 3 km kearah utaranya.
 
          Untuk masuk ke kampung ini kita hanya perlu membayar secara sukarela. Dibagian depan areal parkir berjejer toko-toko suvenir yang menjajakan wadah-wadah dari tanaman mirip rotan kecil yang dianyam (setelah googling ternyata itu dari tanaman ata). Lalu kita memasuki area yang seperti benteng. Didalamnya ada bangunan-bangunan tua seperti bale besar, dan bangunan-bangunan yang lebih kecil. Bale ini masih digunakan sampai sekarang jika ada upacara dan musyawarah. Areal kampung ini menanjak ke utara. Banyak juga sangkar ayam dan ayam petarungnya. Jalanan setapaknya dari batu kali. Selain bertani penduduk disini berpenghasilan sebagai pengrajin.
 
 
          Keunikan yang dimiliki desa Tenganan sehingga menjadi salah satu obyek wisata yang harus dikunjungi antara lain:
  1. Pola perkampungan yang seragam yang bersifat linear.
  2. Struktur masyarakat yang bilateral yang berorientasi pada kolektif dan senioritas.
  3. Sistem ritual khusus dlm frekuensi yang tinggi dengan menyungguhkan perpaduan agama, seni dan solidaritas social.
  4. Tradisi mekare-kare setiap bulan Juni yaitu tradisi perang pandan dalam kontek ritual, nilai religius, semangat perjuangan dan uji ketangguhan fisik yang diiringi oleh gambelan tradisional selonding.
  5. Seni kerajinan tenun ikat kain geringsing dengan design dan tata warna khas, serta memiliki bentuk, fungsi dan makna estetis yang tinggi. Kain ini dipakai pada waktu upacara dimana dipercaya dengan memakai kain ini akan terhindar dari penyakit. Kata Geringsing sendiri berasal dari bahasa Bali yaitu “gering” yang berarti penyakit keras dan “sing” berarti tidak.

             Desa tenganan mempunyai luas area sekitar 1.500.000 hektar, ketika tempat wisata – wisata yang lain dibali berkembang pesat seperti Pantai Kuta, Pantai Amed, yang sangat meriah dengan kehadiran Hotel, Pantai, Café, dan kehidupan malamnya. Desa Tenganan tetap saja berdiri kokoh tidak peduli dengan perubahan jaman dengan tetap bertahan dengan tiga balai desanya yang kusam dan rumah adat yang berderet yang sama persis satu dengan lainnya. Dan tidak hanya itu didesa ini keturunan juga dipertahankan dengan perkawinan antar sesama warga desa. Oleh karena itu Desa Tenganan tetap tradisional dan eksotik, walaupun Masyarakat Tenganan menerima masukan dari dunia luar tetapi tetap saja tidak akan cepat berubah, karena peraturan desa adat /awig-awig mempunyai peranan yang sangat penting terhadap masyarakat Desa Tenganan.

Untuk memasuki desa Tenganan sangatlah unik, sebelum masuk ke area Desa Tenganan. Kita akan melalui sebuah loket, disitu kita tidak diharuskan membayar. Memang karena tidak ada tiket/karcis yang dijual, tapi kita memberikan sumbangan sukarela berapa saja seikhlas kita ke petugas dibangunan kayu yang semipermanen, sebelum masuk wisatawan harus melalui gerbang yang cukup sempit yang hanya cukup dilewati oleh satu orang. Penghasilan penduduk Desa Tenganan juga tidak jelas berapa pendapatannya, karena disana masih menggunakan sistem barter diantara warganya.disana banyak tanaman, sawah, kerbau yang bebas berkeliaran dipekarangan mereka. 
Untuk mendongkrak potensi wisata mereka, Penduduk Desa Tenganan banyak yang menjual hasil kerajinan tangannya ke turis. Artshop juga dapat kita lihat begitu kaki kita melangkah kepintu masuk, mereka menjual banyak kerajinan. Seperti Anyaman bambu, ukir-ukiran, lukisan mini yang diukir diatas daun lontar yang sudah dibakar, dan yang paling terkenal adalah kain geringsing. Kain ini sangatlah unik karena dengan sekilas memandang kita dapat langsung mengetahui kalau kain tersebut memang buatan tangan. Kain ini termasuk mahal, dan hanya diproduksi di desa tenganan saja. Waktu pengerjaannya pun memerlukan waktu yang cukup lama, karena karena warna – warna yang terdapat dikain gringsing ini berasal dari tumbuh-tumbuhan dan memerlukan perlakuan khusus. Walaupun banyak wisatawan yang semakin lama semakin banyak untuk datang didesa ini, namun sayang belanja suvenir mereka masih kurang. Ungkap I Made pelukis lukisan mini diatas daun lontar. 

Berada di desa ini kita merasakan suasana yang aman dan damai, para penduduk desanya yang sangat ramah dan bersahabat. Kita dapat berkeliling areal desa tersebut dan menyaksikan aktivitas mereka sehari hari. Saat yang paling tepat kita berada disana pada saat sore hari, karena pada sore hari biasanya mereka penduduk desa Tenganan sudah melakukan aktivitasnya. Dan berkumpul didepan rumahnya masing-masing, dan tak ayal mereka keluar dan berkumpul bersama para penduduk yang lain. Dan pada saat ini kita dapat menyaksikan dan melihat tingkah laku dan adat budaya tradisional mereka yang amat kental. Maka pantaslah jika mereka disebut dengan sebutan BaliAga / Asli. 

Apabila anda ingin melakukan travelling ke Bali, tidak ada salahnya untuk memutuskan datang kesini dan melihat dari dekat kebudayaan warga Tenganan yang tidak pernah lepas dari budaya tradisionalnya  walaupun dijaman Blogging seperti yang kita lakukan saat ini...............

Related Posts by Categories

Ditulis Oleh : Mad Buddy ~ Just Write

Artikel Uniknya DesaTenganan Pegringsingan Bali ini diposting oleh Mad Buddy pada hari Senin, 21 Februari 2011. Terimakasih atas kunjungan Anda serta kesediaan Anda membaca artikel ini. Kritik dan saran dapat anda sampaikan melalui kotak komentar.

:: Get this widget ! ::

4 komentar:

wah,,bagus banget udah membahas tentang desa adat..jadi memperkenalkan adat Indonesia ke seluruh pengguna internet..sekalian promosi wisata..
saya juga punya artikel yang membahas tentang desa adat Penglipuran di Bali, hasil laporan KKL Arsitektur UNDIP..
Ini link-nya: http://fariable.blogspot.com/2010/11/desa-adat-penglipuran-bali.html

@Faril
Terimakasih Mas Bro atas commentnya :10 Kami sebagai orang Bali sudah seharusnya menginformasikan mengenai hal ini, mungkin caranya saja yang berbeda-beda Mas Bro :12

Jangan segan dan bosan berkunjung untuk sharing disini ya.

Belih made desa pancasari bedugul, sekarang seperti apa ? kan ada danau tamblingan tuh direport dong he he he ... nostalgia gan

@Joss Blogger
:10 Wah ada nostalgia di sana ya hehehe, ok akan saya post nanti..mohon ditunggu ya :12

Poskan Komentar

Jika anda suka dengan artikel ini jangan segan untuk berkomentar ya, Komentar anda sangat diperlukan untuk develop blog ini.

Kalo nggak punya URL, Google Acc, silahkan beri komentar sebagai: Anonymous. Terimakasih.

Photobucket
Silahkan untuk menambahkan LINK Blog anda dibawah ini

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites