Senin, 14 Maret 2011

Home » , » Fenomena Remaja Melacur

Fenomena Remaja Melacur

"Bermata tapi tak melihat, Bertelinga tapi tak mendengar, Berhati tapi tak merasa"

Begitulah cuplikan syair lagu Bimbo untuk menggambarkan betapa gawatnya kondisi generasi muda sekarang yang makin banyak terjerumus ke lembah maksiat. Makin marak remaja usia SMP-SMU terjun ke dunia prostitusi atas kemauan sendiri, lebih parah lagi sajian pornografi makin mudah diakses anak-anak sehingga kini makin banyak anak-anak menderita pornography addict (silahkan klik) atau kecanduan pornografi.

Sekarang ini banyak orang tua yang tidak siap menjadi orang tua Pola pengasuhan yang salah serta kurang pedulinya pemerintah dalam menangani masalah ini, membuat keadaan bertambah parah. Berdasarkan hasil survey BKKBN tahun 2010 di sejumlah kota besar di Indonesia, rata-rata hampir 50% sudah melakukan seks pranikah. Jakarta angkanya 51%, Surabaya 54%,Bandung 47%, Medan 52%, di Yogyakarta dari 1.160 mahasiswa 37% diantaranya hamil diluar nikah.Dari 2,4 juta jiwa yang melakukan aborsi, 800.000 diantaranya remaja. Penderita HIV/AIDS 48,1% usia 20-29 tahun dan 30,9% usia 30-39 tahun.

Ini fakta yang sungguh mengerikan. Orangtua asik dengan aktivitasnya, pemerintah sibuk dengan hingar-bingar politik, sementara kerusakan generasi muda terus berlangsung. Data terbaru didapat bahwa sebuah rumah sakit menyebutkan dari Juni tahun lalu hingga sekarang terdapat 128 anak usia 15-17 tahun melahirkan tanpa suami. Data lainnya adalah sekitar 1.980 anak SMP-SMU di Medan melacur di antara jam sekolah. "Ini fenomena yang mengejutkan!" Disekolah mereka minta ijin pulang karena ada urusan keluarga, tetapi ternyata pergi melacur.
Jumlah anak-anak yang terjun dalam bisnis pelacuran makin marak belakangan ini. Berdasarkan datanya, 30 % diantaranya pelajar SMP dan 45% SMU. Jika masalah ini tidak secepatnya diatasi , dikhawatirkan makin banyak remaja dan pelajar terjerumus bisnis seks ini. Karena seolah-olah dibiarkan  dan para remaja tidak merasa takut lagi melakukan hal-hal tabu yang belum pantas mereka lakukan.

"Kondom terjual habis pada Valentine Day"

Sekarang para remaja tidak malu-malu lagi saat membeli kondom. Anda bayangkan......, pada Valentine Day lalu berdasarkan observasi, di sejumlah apotek dan tempat penjualan kondom, ternyata "barang" itu habis terjual pada hari valentine. Pembelinya kebanyakan anak muda......, nah lho bagaimana ini???

Bicara soal kondom, BKKBN sebagai pemrakarsa penyediaan mesin kondom, masih menjadi polemik meskipun BKKBN beralasan hal itu dimaksudkan untuk mencegah penularan HIV/AIDS. Memangnya mau sedia berapa banyak kondom?? berapa banyak mesin?? Apakah efektif?? Buktinya penyebaran HIV/AIDS tetap meningkat.

Ini sepertinya bentuk pembodohan dan pemberian pemahaman yang salah terhadap solusi pemberantasan HIV/AIDS. Di sisi lain seperti memberi ruang sex bebas, khususnya dikalangan remaja. Ini sudah salah sejak awal, padahal di AS sudah dikampanyekan "Say No to sex" [silahkan klik] sedang kita di sini malah bikin mesin kondom.


Dengan begitu warga masyarakat seakan berpikir ngeseks boleh asalkan memakai kondom. Remaja menjadi lebih permisif terhadap free sex. Keadaan ini sungguh mengerikan dan sudah saatnya semua pihak memberi perhatian lebih pada masalah ini, baik orang tua, masyarakat, maupun pemerintah dan instansi terkait.

Masalah ini kurang mendapat perhatian karena isu ini dianggap kurang sexy. Setidaknya tidak se-sexy masalah-masalah politik yang berkembang akhir-akhir ini. Isu ini dianggap tidak penting, padahal perkembangannya semakin mengkhawatirkan, kerusakan generasi muda terus berlangsung ibarat ulat makan daun "Slowly but sure".

Jual diri lewat Facebook 
Cara yang digunakan remaja dalam "menjajakan diri" pun makin canggih dengan memanfaatkan tekhnologi yang berkembang pesat. Mereka mengiklankan diri lewat dunia maya diantaranya lewat jejaring face book. Ini terbukti razia yang dilakukan pihak kepolisian di Jakarta berhasil menangkap puluhan remaja yang melakukan praktik prostitusi. Mereka usia SMP dan SMU. Rata-rata mereka mengaku berasal dari keluarga sederhana, dan terjun kelembah maksiat ini dengan mengikuti life style yang sedang trendi. Prostitusi dianggap sebagai jalan keluar untuk memenuhi kebutuhan mereka terhadap materi.

Saat ini apa yang terjadi pada bangsa kita adalah tidak mau payah berpikir dan hanya menyelesaikan persoalan di hilir tanpa mau tahu apa yang terjadi di hulu. Kita tidak mengurusi penyebabnya, itulah yang terjadi saat ini. Bangsa ini sedang 'pingsan', masyarakat sedang 'kolaps'. Biasanya baru tersadar dan panik ketika masalah ini masuk 'kekamar tidur anak kita' atau 'anak-anak kita menjadi hamil'.

Banyak orang tua yang tidak tahu kalau anak gadisnya yang masih SMP-SMU ternyata melakukan kegiatan prostitusi. Karena mereka sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Suatu contoh dimana terdapat tujuh anak disuatu daerah yang melacur tanpa diketahui orang tuanya, ternyata yang mengajak melacur adalah tetangganya sendiri. Ketika ibunya ditanya mengapa tidak tahu perkembangan anaknya, si ibu mengatakan bahwa dia sibuk dengan pekerjaan rumah tangga. Lagi pula si anak minta ijin pergi hanya untuk bermain dan hanya berpakaian biasa saja. Ironis bukan.......??? source: Elly Risman, M.Psi




Related Posts by Categories

Ditulis Oleh : Mad Buddy ~ Just Write

Artikel Fenomena Remaja Melacur ini diposting oleh Mad Buddy pada hari Senin, 14 Maret 2011. Terimakasih atas kunjungan Anda serta kesediaan Anda membaca artikel ini. Kritik dan saran dapat anda sampaikan melalui kotak komentar.

:: Get this widget ! ::

0 komentar:

Poskan Komentar

Jika anda suka dengan artikel ini jangan segan untuk berkomentar ya, Komentar anda sangat diperlukan untuk develop blog ini.

Kalo nggak punya URL, Google Acc, silahkan beri komentar sebagai: Anonymous. Terimakasih.

Photobucket
Silahkan untuk menambahkan LINK Blog anda dibawah ini

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites