Minggu, 13 Maret 2011

Home » » Hiperaktif Pada Anak

Hiperaktif Pada Anak

Anak saya nakal, apakah anak saya hiperaktif? Bukankah seorang anak yang aktif merupakan hal yang normal terjadi pada tiap anak pada masa pertumbuhannya?

Dua pertanyaan diatas seringkali ditanyakan para orang tua pada saat ini. Mereka selalu dihadapi pada dua pilihan, apakah menerima perilaku anaknya saat ini (dengan pemikiran bahwa ia hanya nakal biasa) atau mencari penanganannya yang lebih lanjut untuk mengatasi perilaku anaknya. Informasi lebih dalam mengenai gangguan hiperaktif, dampak, dan penanganannya dapat membantu orang tua dalam pengambilan keputusan sehingga mereka tidak salah langkah menentukan pilihan untuk masa depan anak mereka.

Hiperaktif merupakan suatu gangguan mental yang paling sering terjadi pada anak, merupakan suatu keadaan kronis yang sangat berpengaruh pada anak-anak terutama di usia sekolah mereka. Jika orang tua tidak sadar akan gangguan yang dialami anaknya ini, hal ini akan berimbas pada perkembangan anaknya nanti, termasuk prestasi akademiknya. Dan perlu diperhatikan, tidak setiap kenakalan anak dapat disebut dengan kondisi hiperaktif.

Secara medis, kondisi hiperaktif ini dikenal dengan istilah attention-deficit/hyperactivty disorder (ADHD). Gangguan ini ditandai dengan adanya ketidak mampuan anak untuk memusatkan perhatiannya pada sesuatu yang dihadapi, sehingga rentang waktu perhatiannya sangat singkat dibandingkan anak lain yang seusianya. Biasanya disertai dengan gejala hiperaktif dan tingkah laku impulsif (menentang). Kelainan ini dapat mengganggu perkembangan anak dalam hal akademik, perilaku, sosialisasi, maupun komunikasi.
Diperkirakan 4% - 12% anak usia sekolah mengalami gangguan ini. Sesungguhnya gangguan ini dapat terjadi sejak anak masih balita, namun gejalanya akan tampak lebih nyata saat anak memasuki usia sekolah.

Penyebab Gangguan Hiperaktif
Penyebab gangguan ini belum dapat dipastikan, namun dikatakan memiliki hubungan dengan faktor genetik atau keturunan, kerusakan struktur otak anak akibat infeksi atau trauma saat kelahiran, serta akibat ibu yang merokok dan minum alkohol selama kehamilan. Faktor psikososial juga dikatakan memiliki peranan dalam gangguan ini seperti pola asuh anak yang salah dan komunikasi yang buruk antara orang tua dengan anaknya.


Gejala Anak Hiperaktif
Untuk dapat disebut memiliki gangguan hiperaktif, harus ada 3 gejala utama yang tampak pada perilaku seorang anak, yaitu inatensi, hiperaktif, dan impulsif. Inatensi atau pemusatan perhatian yang kurang dapat dilihat dari kegagalan seorang anak dalam memberikan perhatian secara utuh terhadap sesuatu. Anak tidak mampu mempertahankan konsentrasinya terhadap sesuatu, sehingga mudah sekali beralih perhatian dari satu hal ke hal yang lain., sering tidak tuntas dalam mengerjakan sesuatu serta berusaha menghindari pekerjaan yang membutuhkan daya konsentrasi tinggi. Contohnya adalah saat anak sedang berada di kelas, anak diharapkan mampu berkonsentrasi untuk menyimak pelajaran yang disampaikan oleh gurunya.

Pada anak dengan gangguan hiperaktif, anak akan mengalami kesulitan menyimak pelajaran karena perhatiannya mudah teralihkan oleh hal-hal kecil seperti suara di luar kelasnya. Anak seperti ini memiliki IQ yang normal namun mengalami hambatan dalam proses pembelajaran. Gejala hiperaktif dapat dilihat dari perilaku anak yang tidak lazim dan cenderung belebihan yang ditandai dengan gangguan perasaan gelisah, selalu menggerak-gerakkan jari-jari tangan, kaki, ataupun pensil. Anak tidak dapat duduk dengan tenang dan selalu meninggalkan tempat duduknya meskipun pada saat dimana dia seharusnya duduk dengan tenang.
Gejala impulsif ditandai dengan perilaku anak yang agresif. Ada semacam dorongan untuk mengatakan atau melakukan sesuatu yang tidak terkendali. Dorongan tersebut mendesak untuk diekspresikan dengan segera dan tanpa pertimbangan sehingga terlihat anak tidak memiliki kesopanan. Contoh nyata dari gejala impulsif adalah perilaku yang tidak sabar, suka menentang serta mudah marah. 

Ketiga gejala tersebut harus menetap selama enam bulan, muncul saat usia anak kurang dari 7 tahun, dan harus terjadi minimal di dua tempat misalnya disekolah, dirumah, ataupun di tempat umum. Dengan mengetahui gejala yang jelas diharapkan gangguan hiperaktif ini dapat dideteksi lebih dini sehingga anak lebih cepat mendapat penatalaksanaan yang tepat.

Penatalaksanaan Gangguan Hiperaktif
Anak dengan hiperaktif memerlukan penanganan yang berkelanjutan. Orang tua dengan anak seperti ini harus sabar dalam mengobati anaknya. Anak sebaiknya dibawa ke dokter ahli untuk mendapat terapi yang optimal. Terapi dapat berupa obat-obatan dan juga terapi perilaku. Beberapa tips bagi orang tua yang memiliki anak seperti ini antara lain:
  1. Buatlah jadwal harian di rumah yang mudah di ikuti oleh anak anda untuk di ingat dan di ikuti. Pasanglah jadwal ini di tempat yang mudah di lihat oleh anak anda.
  2. Aturlah barang-barang anak anda agar dapat mudah ditemukan, teermasuk barang-barang sekolah, pakaian, atau mainan.
  3. Ketika anak anada sedang mencoba menyelesaikan suatu tugas, coba hilangkan pengalih perhatian seperti televisi, musik, atau komputer.
  4. Jangan buat anak anda bingung dengan banyak pilihan ketika memilih sesuatu seperti makanan, pakaian, atau mainan.
  5. Berikan perintah kepada anak dengan kata-kata yang singkat dan jelas.
  6. Buat suatu tujuan untuk anak anda, dan berikan penghargaan apabila dia berhasil mencapai tujuan tersebut.
  7. Ketika anak anda berkelakuan tidak baik, hindari memberikan hukuman dengan membentak atau dengan hukuman fisik.
  8. Buat anak menghargai dirinya dengan mendorong atau mendukung anak untuk menguasai keahlian yang mereka miliki, sehingga anak dapat menjadi pribadi yang lebih baik dan menarik. source: dr Ni Putu Mayasri Wulandari.





    Related Posts by Categories

    Ditulis Oleh : Mad Buddy ~ Just Write

    Artikel Hiperaktif Pada Anak ini diposting oleh Mad Buddy pada hari Minggu, 13 Maret 2011. Terimakasih atas kunjungan Anda serta kesediaan Anda membaca artikel ini. Kritik dan saran dapat anda sampaikan melalui kotak komentar.

    :: Get this widget ! ::

    2 komentar:

    Perlu penanganan khusus & extra sabar, kelembutan serta kasih sayang dari kedua orang tuanya

    @nyoman ariani
    :39 memang tidak mudah untuk mendidik dan membina anak yang hiperaktif, orang tua harus banyak membaca dan mengerti bagaimana cara yang tepat untuk menangani kasus seperti ini :26

    Poskan Komentar

    Jika anda suka dengan artikel ini jangan segan untuk berkomentar ya, Komentar anda sangat diperlukan untuk develop blog ini.

    Kalo nggak punya URL, Google Acc, silahkan beri komentar sebagai: Anonymous. Terimakasih.

    Photobucket
    Silahkan untuk menambahkan LINK Blog anda dibawah ini

    Share

    Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites